Beda SBY dan Soekarno Ketika Berhadapan dengan Sadapan Amerika
00.04

Foto:
serbasejarah
Artikel ini
saya baca disuatu page dijejaring sosial tahun lalu. Karena begitu menarik
akhirnya saya simpan untuk dijadikan sebuah renungan yang mungkin bisa kita
ambil hikmahnya.
Isinya
begini ...
Sesaat usai
pesawat B-26 ditembak jatuh, ada dua parasut mengembang keluar dari pesawat
itu. Parasut itu tersangkut di pohon kelapa dan pasukan TNI membekuk dua orang.
Yang satu namanya Harry Rantung anggota Permesta dan satunya lagi seorang bule
Amerika.
Itulah si
pilot Allen Lawrence Pope. Dari dokumen-dokumen yang disita, terkuak Allen Pope
terkait dengan operasi CIA. Yaitu menyusup di gerakan pemberontakan di
Indonesia untuk menggulingkan Soekarno.
Tak pelak,
tuduhan bahwa Amerika dengan CIA adalah dalang pemberontakan separatis, bukan
isapan jempol! Peristiwa tertangkapnya Allen Pope adalah tamparan bagi Amerika.
Itu mungkin terwakili dalam kalimat Allan Pope ketika tertangkap. “Biasanya
negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang”.
Tapi
sebetulnya yang lebih bikin malu Amerika bukan soal kalah yang dikatakan Pope
tadi. Tapi tertangkapnya Allan Pope mengungkap permainan kotor AS untuk
menggulingkan Soekarno. Seperti biasa, Amerika menyangkalnya. Tapi bukti-bukti
yang ada membungkam penyangkalan Washington.
Taktik kotor
itu jadi isu internasional. Tanpa ampun, kedok operasi CIA dibuka Bung Karno
lengkap dengan bukti-buktinya. Amerika terpaksa berubah 180 derajat menjadi
baik pada Soekarno. Semua operasi CIA untuk melengserkan Soekarno langsung
dihentikan.
Amerika
berusaha mati-matian minta pilotnya dibebaskan. Segala cara pun mulai dilakukan
untuk mengambil hati Bung Karno. Presiden AS Dwight Eisenhower mengundang
Soekarno ke AS bulan Juni 1960.
Lalu Soekarno
juga diundang Presiden John F Kennedy di bulan April 1961. Di balik segala
alasan diplomatik tentang kunjungan itu, tak bisa disangkal itu karena
kelihaian Bung Karno memainkan isu Allen Pope.
Bung Karno
main tarik ulur untuk membebaskan Pope. Tarik ulur berjalan alot. Karena Bung
Karno tak mau melepaskan Pope dengan gratis dan sengaja berlama-lama sebelum
Amerika menyanggupi permintaan Indonesia.
Hanya untuk
membebaskan seorang Pope, Gedung Putih butuh waktu 4 tahun, sebuah proses
negosiasi diplomatik yang menyita waktu dan tenaga. Tapi itulah yang diinginkan
Bung Karno, sekaligus memberi pelajaran kepada penguasa Negeri Paman Sam.
Dimulai
dengan rayuan Presiden Dwight Eisenhower yang mengundang Bung Karno ke Amerika.
Namun sesudahnya Bung Karno tetap tidak mau tunduk dan proses negosiasi gagal
total. Eisenhower marah dan jengkel, tapi Bung Karno tetap dengan pendiriannya.
Sikap Gedung
Putih mulai melunak usai jabatan presiden beralih ke John F Kennedy. Mantan
senator Partai Demokrat itu tahu Soekarno sangat kuat dan benci kalau ditekan.
Di era
Kennedy, proses negosiasi menemui titik terang lagi, saat John F Kennedy
mengirim adik kandungnya Jaksa Agung Robert Kennedy, menemui Bung Karno di
Jakarta. Misinya jelas, Mr President, bebaskan Pope!
Tapi Bung
Karno tetaplah Bung Karno. Membebaskan Pope atau tidak hasilnya sama saja,
tidak akan membuat warga di Ambon yang tewas bisa hidup lagi. Saat itu
Indonesia sedang butuh peralatan perang untuk melawan Belanda di Irian Barat,
tapi Jakarta tidak punya cukup dana. Tapi Bung Karno gengsi kalau meminta
kepada Washington, ia cukup memberikan isyarat agar bisa dibaca oleh penguasa
Gedung Putih.
Dan John
Kennedy peka membaca isyarat itu. Bung Karno pernah berkata “Presiden John F
Kennedy sangat mengerti akan diriku”.
Kennedy
paham Indonesia peralatan perang untuk merebut Irian Barat. Karena itu, John F
Kennedy mengundang Bung Karno ke AS dan diajaknya melihat pabrik pesawat
Lockheed di Burbank, California. Di sana Bung Karno diberi kemudahan oleh
Kennedy untuk mendapatkan 10 pesawat Hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo dan
2 tanker.
Meski
dikenal sebagai orang yang berwatak keras, Bung Karno adalah sosok tahu balas
budi. Rasa pengertian dari Presiden Kennedy langsung dibalas Bung Karno dengan
membebaskan Allen Pope dan dipulangkan ke AS.
Ini yang
diinginkan Bung Karno dari Amerika, membebaskan Pope tidak gratis. Bantuan AS
bukan untuk pribadi Bung Karno, tapi untuk kepentingan negara merebut Irian
Barat dari cengkeraman Belanda.
Tak hanya
itu, Bung Karno juga bisa membuat Kennedy menyudahi embargo ekonomi dan
menyuntik dana ke Indonesia, termasuk gelontoran beras 37 ribu ton dan ratusan
persenjataan, yang memang dibutuhkan oleh Indonesia saat itu.
Dan Bung
Karno sudah berhasil mempertontonkan sebuah diplomasi dan negosiasi tingkat
tinggi sehingga Indonesia dihargai di mata Amerika Serikat.
Akhirnya
Allen Pope dibebaskan secara diam-diam oleh suatu misi rahasia saat subuh di
bulan Februari 1962.
Saat itu
Bung Karno sempat berpesan kepada Pope “Tinggalkan Indonesia dan jangan pernah
kembali atau negaramu akan membayar pembebasanmu lagi dengan harga lebih
mahal”.
Kini, saat
Indonesia dikerjai Amerika dengan aksi penyadapan, Presiden SBY sama sekali
tidak membuat gerakan untuk membalas tindakan arogan itu. Jangankan untuk
membalas, mengecam saja, SBY tidak berani.
Pantas saja,
nama Soekarno tetap harum di mata internasional meski sudah berpulang puluhan
tahun silam. Tapi perjuangan dan dedikasinya untuk memajukan Indonesia tetap
dikenang hingga kini. (pm/artati sansumardi)



0 komentar