Diantara dua istikharahku..

03.14




       




  Hari ini aku masih tidak percaya dengan semua yang terjadi. Aku tau cinta ini tidak halal bagiNya. Tapi aku sudah masuk kedalamnya hingga aku sulit melepas semua ini. Seperti rantai gajah yang melelit seluruh tubuhku. “Allah jika demikian tolong bantu aku melepas semua ini ..” doaku yang selalu aku panjatkan padaNya disetiap malamku.
Namanya Delon , dia adalah seorang laki-laki yang telah membawa hatiku berbunga-bunga. Sikapnya yang selalu perhatian kepadaku membuatku terlena dalam dunia yang indah ini. Aku memang bukan wanita yang paham tentang agama. Yah itulah yang membuatku menyesal. Dalam setiap hari-hariku hanya ada Delon. Delon adalah sosok lelaki yang baik, ia tampan dengan wajah orientalnya perawakannya yang tinggi putih dan ia smart. Mungkin setiap wanita akan mengucap “lelaki perrfect” setiap berjumpa dengannya. Sungguh beruntungnya aku bisa menjadi wanita terkasihnya. Dengan wajah khas jawaku, ia dengan bangga memperkenalkanku dengan kerabat-kerabatnya yang lain.
Dalam setiap perjalanan cinta yang dibangun terkadang akan ada badai yang menerjang. Begitu pun dengan perjalanan ku. Ketika jarak memisahkan aku dan dia. Yaa aku pulang kembali ketanah air dan ia tetap tinggal diluar negeri sana ia bekerja disalah satu perusahaan ternama dinegeri itu. Dan aku memutuskan untuk berkarya ditanah airku. Jauh jauh sekali jarak memisahkan aku dan dia..
Aku dan Delon bertemu ketika kami sama-sama sedang belajar di negeri paman sam. Ketika itu ia adalah sahabat seseorang yang telah lama menyukaiku tapi entah kenapa Delon yang menjadi kekasihku. “betapa dunia tak ada yang bisa menebak” begitulah pikirku dulu. Aku masih ingat ketika Delon menjadi tukang pos untuk sahabatnya itu, setiap hari dia menyampaikan titipan salamnya padaku,dan setiap minggu dia memberikan setangkai bunga untukku titipan sahabatnya itu. Entah kenapa sahabatnya tak pernah berani menemuiku. ketika itu aku hanya mampu tersenyum dan bergumam dalam hati “begitu lucu”. Hal seperti ini terus berulang hingga dua semester kuliahku. Begitu lama.. tapi apakah sahabatnya Delon tak merasakan sakit ketika ia harus berbuat demikian dan tak mampu mengungkapkan apa yang dia rasakan kepadaku.? Entahlah aku tak pernah tau itu …
Sampai akhirnya Delon lah yang mengatakan padaku.”apa?” dengan ekspresi yang begitu polos, aku terheran-heran mendengarnya..
Aku begitu kaget, aku tak menyangka lelaki tukang pos sahabatnya itu yang akhirnya mengatakannya padaku, tapi apakah kalimat itu titipan sahabatnya juga?
“tidak, ini bukan dari nya, ini dari hatiku aku tau mungkin aku akan disebut sebagai lelaki penghianat. Tapi aku tak peduli Sya.. itulah yang aku rasa selama ini. Aku menjadi lelaki tukang pos yang pada akhirnya cinta itu mulai tumbuh dalam hatiku..maaf sya.”
Ah begitu jujur dia, aku tak mampu menatap wajahnya. Ia masih terus melanjutkan ceritanya
“sya , sebenarnya dia menitipkan semua salam dan bunganya hanya berjalan selama setengah semester karena dia pikir kamu tidak memberikan respon seperti yang dia harapkan. Jadi dia memutuskan untuk menghentikan semua perlakuannya. Tapi sya, karena semua perasaan yang telah tumbuh dalam hatiku membuatku tak mampu mengakhiri semua itu. Ketika aku mencoba menyudahi seperti yang sahabatku katakan. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku, aku rindu dan semakin rindu padamu. Satu bulan lamanya aku tak menjadi tukang pos dan itu membuatku gundah sya. Akhirnya dibulan berikutnya aku memutuskan kembali untuk menjadi tukang pos, bedanya itu untuk diriku sendiri. Meskipun aku manyampaikan dari sahabatku. Kamu tau sya aku tak mampu menyatakan sendiri, aku tak memiliki keberanian itu. Semua dayaku telah terampas oleh yang namanya “cinta” sya...
Yah memang aku tak pernah memberikan respon yang berarti untuk sahabatnya itu, karena aku pikir itu hanya iseng belaka.
“semakin menunduk aku mendengar ia berucap. Aku tak mampu menjawab hanya air mata ini yang mampu menggambarkan isi hatiku saat itu. Seolah dia terus menguatkan aku dengan tangannya ia pegang erat tanganku. Oh begitu aku merasakan kedamaian dalam hatiku” begitulah setan selalu menyempatkan diri dalam setiap kesempatan.
Belum sempat aku menjawab, dia masih melanjutkan kalimatnya “Sya aku tau kamu masih tidak percaya, tapi aku yakin kamu mampu melihat ketulusan ini. I will waiting for you... cause I am sure, I can make you happy. please believed me..“
Ooh Tuhan ,begitukah lelaki ?? semakin membuatku dalam kegalauan.
“yaa.. I believe you,but I can't answer now. Please give me time to think,,”
Dua minggu berlalu, sampai akhirnya aku memberikan jawaban. Hatiku dag dig dug tak karuan. Aku berdoa semoga ini yang terbaik untuku dan untuknya kelak. “are you sure? Can you repeat one again??
i love u “ teriakku dengan wajah yang sedikit merah :)
yaa aku menerimanya menjadi kekasihku.
Aku masih melihat binar cahaya kebahagiaan dimatanya, ia begitu bersemangat, ia begitu terlihat bahagia.
Waktu begitu cepat berlalu, semakin lama, ketika jarak yang memisahkan semakin bertambah umur semakin pula otak ini berfikir. Entah, entah kapan aku memulai berfikir tentang hal ini. Tentang keseriusan, tentang tanggung jawab, tentang kehidupan dinegeri keabadian.. ah aku benar- benar tidak mengerti. Aku merasa gila dengan semua ini.

Pernah terlintas dalam benakku apakah aku akan terus bersamanya, dengan perbedaan ini?dengan keyakinan yang berseberangan? Apakah aku mampu melewatinya?
Bukankah rumah tangga itu dibangun karena ada satu pedoman, bukan dua!

Yaa.. aku, aku dan Delon berbeda keyakinan. Aku tak mengerti kenapa dulu aku tak pernah menganggap penting ini, mengapa aku tak pernah mengambil serius untuk hal ini. Sekarang baru aku rasakan kebimbangan yang sangat. Sejak jarak yang memisahkan, setelah usiaku bertambah dan cara berfikirku berubah. Aku memiliki satu pedoman dia pun juga. Apakah dua perbedaan dasar mampu bersatu?

Aku tak mampu menjawab semua ini.. aku tak mampu..
“Allah bantu aku,memilih mana yang terbaik..”
Semakin lama semakin kurasakan kegalauan dihatiku. Aku makin tak mampu bersikap. Semua serba salah.ingin kucoba utarakan ini pada Delon tapi aku takut akan mengganggunya, aku takut dia sudah terlalu lelah bekerja, aku takut dia .. aku takut..

“oh aku tak mampu utarakan semua ini, bagaimana ini?” pikirku dalam angan

Sudah tiga tahun lamanya hubungan ini aku jalani. Aku tak tau akan sampai kapan, mau dibawa kemana akhirnya. Tak ada kejelasan. Tak ada pembicaraan

“duhai, taukah kau kekasih. Umurku semakin hari semakin bertambah. Akankah kau diamkan hal seperti ini? Mau dibawa kemana hubungan ini?” ucapku dalam hati

Aku teringat sebuah kata yang dia ucapkan ketika perpisahan dibandara. Kata- kata yang membuat aku menanti dalam kegundahan yang menyelimti hari-hariku. Kata-kata yang mampu menyihirku menjadi manusia palling tertutup karena menantinya.
”tunggu aku di Indonesia”
Dan dengan bahagianya aku menjawab “ya!”

what..?? “
Aku tak berfikir sampai kapan aku akan menunggunya jika tak ada kejelasan seperti ini?apakah dia akan kembali setelah aku menua? Dimana pikiranku saat itu? Benarkah aku masih dilanda gelombang cinta? Hingga aku takbisa berfikir menggunakan logika?

Duhai...

Aku mencoba menghubunginya,dengan segala kegundahan yang kurasakan. Kuberanikan diri mengutarakan apa yang kurasakan. Kukirim email padanya, beribu-ribu kata sudah kutuangkan dalamtulisan itu, kucobamencari kata yang tepat,yang tak menyakiti hatinya.semoga dia mengerti.
Padahaldalam hati, aku sangat takut. Takut mengganggu waktu kerjanya. Takut membuat hatinya kecewa dan berbagai perasaan gundah. Tapi jika aku diam saja akupun tak tau apa yang akan terjadi nanti.

Sehari,

Dua hari,

Tiga hari,


Belum ada balasn email.. “hhhh mungkinkah ia belum membacanya?” pikirku

Kucoba selalu berbaik sangka pada keadaan. Tapi kekhawatiran itu selalu mengikutiku, seperti rantai gajah yang sulit aku lepaskan.

Aku mulai membaca buku buku tentang agamaku, aku mulai belajar agama dari nol. Aku sungguh menyesal aku baru tau bahwa takan ada dua nahkoda yang mengendalikan kapal. Kucari sumber-sumber yang terpercaya, bertanya pada seorang guru agama yang paham dan tahu akan perkara ini.
Perlahan aku mulai mendapat jawaban dan hatiku mulai tersadar dan terbuka kembali. Baru aku sadari selama ini aku begitu tak mengenal islam. Ia ada dlam kehidupanku tapi hanya sebagai simbol. Tak ada dalam diriku. Aku benar-benar merasa menjadi orang yang paling merugi didunia ini.
“Robbi, aku benar-benar merasa tak pantas bersimpuh dihadapanmu. Terlalu banyak ingkarku padamu, terlalu besar dosaku padamu..” tangisku didepan guruku

Beliau selalu menyarankan ku untuk melaksanakan shalat istikharahku. Untuk menyakinkan hati ini. Apakah aku harus meninggalkanya atau tetap mempertahankannya. Namun aku belum benar-benar mampu. Sampai pada suatu saat yang membuatkku benar-benar dalam kegalauan super. Mungkin jika disamakan dengan penyakit sudah benar-benar berada pada level akut.

Allah, aku baru tersadar baru kali ini aku merasakan kau begitu dekat denganku. Ku laksanakan shalat istikharah pertamaku. Hatiku mulai tenang,..

Tiba-tiba satu message tampil di emailku ku. Jantungku mulai berdegupkencang ketika aku mulai tau siapa pengirimya. Ya dia Delon...
Pelan-pelan kubaca dan ternyata …....................................................................................................

Benar dugaanku diabelum bisa mengerti tentang ini semua, dia masih tak mengerti mengapa aku berfikir seperti ini. Kujelaskan panjang lebar alasan-alasanku meski melalu komunikasi seadanya. Sambil berderai airmata kulanjutkan semua tulisan yang menggambarkan isi hatiku.

“dear,
Aku tahu mungkin hatimu akan sakit mengapa aku berfikir demikian? Tapi taukah engkau hatiku lebih sakit jika aku pendam sendirian. Dulu aku tak mengerti apa itu keyakinan, dulu aku memang tak mengerti bagaimana islam memandang keyakinan itu.

Untuk yang terkasih, jangan kau kecewa dengan hal ini, keyakinan kita tentu baik untuk masing-masing diri kita. Aku masih teringat ketika seorang guruku berkata “hendaknya rumah tangga itu dibangun dengan satu pedoman” aku menjadi berfikir tentang kita. Aku dan engkau memiliki pedoman yang berbeda. Ketika pedomanku bicara kekanan dan pedomanmu bicara kekiri, dapatkah engkau bayangkan apa yang akan terjadi? Siapakah yang akan mengalah dan mengikuti salah satu? Dan dalam hatiku aku katakan dengan tegas aku takkan mengikuti dear...

Mungkin engkau kecewa, marah dan sakit hati ..
Maafkan aku dan bacalah penjelasan ku berikutnya, tenangkan hatimu dear .. aku tau engkau cerdas dan aku yakin engkau mampu mengendalikan emosimu ..

Duhai yang terkasih,
Bukankah engkau pun takkan mau jika keyakinan yang selama ini engkau jaga tiba-tiba harus runtuh karena seseorang yang mungkin juga takan mampu membahagiakanmu selamanya??
Jika takdir telah menetapkan kita berjodoh aku yakin Allah pasti akan mempersatukan engkau dan aku, namun jika pun tidak aku yakin Allah memiliki rencana yang terbaik untuk kita,

Duhai,
Bukan aku ingin memaksakan keegoisanku, namun ketika aku harus menunggumu tanpakepastian dan kejelasan mau dbawa kemana hubungan kita, apakah engkau tega melihatku semakin tua terus menanti ? Beruntung jika engkau dan aku berjodoh namun jika tidak, apakah engkau tega melihat yang pernah engkau kasihi merana dalam hari-harinya. Duhai …

Kekasih hati,
Aku beruntung pernah menjadi pengisi hatimu tapi ketika kita dihadapkan dua pilihan bukankah kita harus memilih salah satu secara tegas? Aku yakin engkau dapat mengerti. Maafkan aku yang terlamapu egois, supaya tidak ada prasangka buruk dan rasa khawatir yang mengikuti hari-hari kemudian ku mohon maafkan keegoisanku ..
Karena aku percaya keputusan ini yang terbaik untuk kita. Engkau dan aku.
Karena dengan begitu keyakinan mu dan keyakinan ku akan sama-sama terjaga
Meskipun hati ini akan merasakan sakit, tapi yakinlah dear semua akan berbuah manis pada akhirnya. Aku yakin engkau akan menemukan separuh jiwamu yang pasti dapat mem
bahagiakanmu dan mampu menjaga keyakinanmu. Begitu pula doaku pada diri ini..
Janganlah engkau berkecil hati , dunia ini terlamapu luas untuk memilih wanita- wanita yang sesuai dengan hatimu tinggal kau pillih satu diantara banyak itu ..
Dan aku berharap semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran untuk kita kedepannya.


Terimakasih kekasih, hingga saat ini engkau yang selalu membuat tawaku memancar bak mentari yang tersenyum dibagi hari..




Kekasihmu yang dalam kegelisahan,


rasya





Istikharahku yang kedua kulaksanakan betapa aku mulai merasakan ketenangan yang luar biasa meskipun belum selesai masalahku itu. Tapi aku yakin Allah maha tahu dan Maha melihat.

Delon mulai terbuka hatinya dan ia paham akan keinginanku. Aku tak memberikan pilihan karena aku tahu dia yang harus memilih. Tak ingin aku paksakan apa yang menjadi prinsipku dan ketika dia tak memmilih ini berarti kita akan menjalani kehidupan ini dengan orang yang berbeda.
Karena aku yakin Delon akan menemukan seseorang yang mampu menjaga hatinya dan keyakinannya. Begitu pula aku...


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images